BeritaDaerah

Penjaga Rumpon Sulut: Pahlawan Ekonomi yang Masih Terpinggirkan

86
×

Penjaga Rumpon Sulut: Pahlawan Ekonomi yang Masih Terpinggirkan

Sebarkan artikel ini

suaraintelijen.com.MANADO-Sulut,Di balik kejayaan Sulawesi Utara sebagai salah satu lumbung perikanan tuna nasional, terdapat sosok-sosok pekerja laut yang jarang tersorot, yakni para penjaga rumpon. Mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan pasokan ikan, namun harus bekerja dalam kondisi penuh risiko tanpa perlindungan yang memadai.

 

Realitas tersebut mencuat dalam dialog multipihak bertajuk Sistem Pengguna Rumpon dalam Perikanan Tuna Sulawesi Utara yang digelar di Hotel Quality Manado, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini mempertemukan pemerintah provinsi, akademisi, pelaku usaha perikanan, organisasi masyarakat sipil, serta inisiatif SEA GUARD (Supporting Education for Guards of Fish Aggregating Devices in Eastern Indonesia).

 

Dalam forum itu terungkap bahwa para penjaga rumpon harus bertahan hidup berbulan-bulan di tengah laut, menempati rakit kayu atau gubuk sederhana dengan fasilitas terbatas. Mereka menghadapi ancaman badai, kekurangan logistik, hingga risiko hanyut ke perairan negara lain.

 

Salah satu kisah memilukan dialami Jufri, yang hanyut selama 12 hari hingga ke perairan Filipina. Menurut Arnon Hiborang dari SAKTI Sulut, masih banyak kasus kecelakaan bahkan korban jiwa di kalangan penjaga rumpon yang tidak terpublikasikan.

 

Terpaksa Demi Bertahan Hidup

Bagi sebagian masyarakat pesisir, profesi penjaga rumpon bukan sekadar pilihan kerja, melainkan keterpaksaan demi memenuhi kebutuhan hidup. Meski secara aturan pelampung rumpon tidak boleh dihuni, praktik ini tetap berlangsung dan menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi perikanan.

 

“Kita tidak bisa hanya melihat ini sebagai pelanggaran. Harus ada solusi konkret agar mereka mendapatkan perlindungan yang layak,” ujar Widya Nugroho Satriaojie, inisiator SEA GUARD.

 

Dorongan Regulasi dan Perlindungan

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara tengah menyiapkan rancangan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait penempatan dan perizinan rumpon.

 

Langkah ini diharapkan mampu memberikan kepastian hukum sekaligus meningkatkan perlindungan bagi penjaga rumpon, termasuk melalui pelatihan keselamatan dasar seperti Basic Safety Training (BST).

 

Pemanfaatan Teknologi

Selain regulasi, pemanfaatan teknologi juga menjadi sorotan dalam dialog tersebut. Inovasi berupa perangkat pintar pendeteksi ikan di sekitar rumpon dinilai dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi beban kerja penjaga.

 

Teknologi ini juga berpotensi menghadirkan sistem komunikasi dan peringatan dini yang lebih baik, guna meminimalisir risiko kecelakaan di laut.

 

Dengan kolaborasi lintas sektor, diharapkan ke depan sistem perikanan di Sulawesi Utara tidak hanya produktif, tetapi juga lebih aman dan manusiawi.

 

Para penjaga rumpon adalah bagian penting dari rantai ekonomi perikanan. Sudah saatnya mereka mendapatkan perhatian, perlindungan, dan penghargaan yang layak atas kontribusi besar yang selama ini mereka berikan.

 

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *